Saturday, December 5, 2020

Ngaji Diri Ngaji Rasa Bersama Romo KH. Muharor Bahruddin Berbasis Kitab Tazkiyat al-Atqiya Wa Minhaj al-ashfiya

 

Oleh: Mugni Muhit

 

Ngaji diri dimaknai sebagai pemahaman yang baik dan benar atas potensi dan kafabilitas diri secara utuh, baik jasmani maupun rohani. Integritas jasmani dan rohani dalam pengkhidmatan kepada Sang Pencipta menjadi syarat mutlak. Dan ini yang menjadi ghayah atau tujuan hakiki tarbiyah islamiyah.

 

Ngaji rasa diartikan dengan bagaimana kita mengendalikan emosi jiwa. penyaluran emosi jiwa yang penuh rasa ini harus diarahkan kepada tepo seliro, mawas diri, dan lapang dada atau legowo.

 

Tidak ada ikhtiar strategis untuk merealisasikan tujuan pendidikan Islam tersebut, selain fokus pada core-core ideal dan penting, yakni tarbiyah qona’ah, zuhud, tawakal, dan ikhlas serta hifdh al-lisan.

 

Fokus pendidikan athqiya berorientasi pada pembentukan akhlak yang bersifat holistik dan sentralistik, yaitu akhlak kepada Allah Swt. terjewantahkan dalam wujud akhlak seseorang dengan sikap penyesalan atas kesalahan menjadi sebuah ketaatan, sikap zuhud melalui Pengosongan hati dari makhluk, tawakal dengan pasrah terhadap ketentuan dan rekayasa Allah SWT, sikap ikhlas melaui manivestasi amal yang karena Allah SWT.

 

Kedua, interelasi dan interdependensi sesama manusia, mencakup sikap menjaga lisan dari kata dan narasi buruk dan negatif yang dapat menyakiti orang lain. 

1. Filosofi Pendidikan Zuhud

بِالْمَالِ لَافَـقْدٌ لَهُ تَكُ أَعْـقَلَا

وَازْهَدْ وَذَا فَقْدُعَلَاقـَةِ قَلْـبِكَا

"zuhud bukanlah miskin tak punya harta, tetapi zuhud itu adalah manakala hati tak tertambat padanya.

 

Dalam penghampiran linguistik, zuhud adalahِ خلاف الرغبة berarti “tidak tertarik terhadap  sesuatu’’. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dan kemewahan

dunia yang mubadzir untuk beribadah. Pelaku zuhud disebut zahid,. Zahidah jamaknya zuhdan yang berarti kecil atau sedikit.

 

Dari terminologi lughawi tersebut, maka hakikat zuhud adalah:

وَحَقِيْقَتُهُ اِنْصِرَافُ الرُّغْبَةِ عَنِ الشَّيئ إلى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ

"mengalihkan ketertarikan terhadap sesuatu yang jauh lebih baik.

 

Lebih gamblang lagi, zuhud substansinya dilukisjelaskan oleh Allah dalam kitab suci, surat al-Hadid (57):23  :

لِكَيْال تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللََّهُ لا يُحِبَُّ كُلََّ مُخْتَالٍ فَخُور

 

"Kami jelaskan yang demikian itu, agar kamu jangan berduka cita

terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai

orang yang sombong lagi membangkang diri.”

 

Oleh sebab itulah analisa terhadap lafadz zuhud dalam perspektif terminologis, tidak dapat terlepas dari dua substansial. Pertama, zuhud sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tasawuf. Kedua, zuhud sebagai moralitas (akhlak) Islam dan kinerja argumentatif. Jika tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai perwujudan ihsan,  maka zuhud merupakan suatu maqam dan koridor khusus menuju tercapainya ma'rifat kepada Sang Pencipta.

 

Dengan kata lain, zuhud yaitu menghindari tercapainya kenikmatan duniawi semata, karena dorongan keagamaan untuk membersihkan jiwa dari keburukan duniawi. Makanya seorang zahid sering melaksanakan puasa dan melaksanakan shalat dan dzikir pada durasi waktu yang lama di tengah malam. Namun demikian, hal tersebut bukanlah merupakan aspek yang terpenting dalam tasawuf, sebab yang urgen dalam tasawuf adalah keprihatinan sikap batin (kecendekiawanan). Sikap inilah yang mampu mendorong seseorang melakukan kepekaan dan solidaritas sosialnya.

 

2. Filosofi Pendidikan Tawakal

ثِـقَةً بِوَعْدِالرَّبِّ أَكْرَمَ مُفَضِّلَا

وَتَوَكَّلَنْ مُتَجَـرَّدًا فِى رزْقِكاَ

"Bangunlah keyakinan hanya pada kebesaran Allah yang senantiasa menempati janjiNya, bahwa Dialah yang menjamin hidup dan kehidupan"

 

Karakter orang yang senantiasa bertawakal kepada Allah SWT, ia tidak pernah berkeluh kesah dan gelisah. Ia akan memposisikan dirinya secara total dalam ketenangan, ketentraman, dan

kegembiraan. Jika ia memperoleh nikmat dan karunia dari Allah, ia akan bersyukur, dan jika mendapatkan musibah, ia akan bersadar. Ia menyerahkan seluruh eksistensi dirinya sendiri kepada Allah SWT. Penyerahan diri itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan semata-mata karena Allah SWT.

 

Keyakinan utama yang mendasari tawakal adalah keyakinan sepenuhnya akan kekuasaan dan kemahabesaran Allah Swt. Itulah sebabnya tawakal adalah wujud nayata dari tauhidullah. Dalam hati orang yang bertawakal akan tertanam iman yang kokoh bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT dan berlaku atas ketentuan-Nya. Tidak seoarang pun dapat dapat berbuat dan menghasilkan sesuatu tanpa izin-Nya, baik berupa hal-hal yang memberikan manfaat atau mudarat dan menggembirakan atau menakutkan. Sekalipun seluruh makhluk berusaha untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat kepadanya, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan izin Allah Swt.

 

Tawakal berasal dari akar kata وكالة (mewakilkan), menurut istilah

ialah:

فَالتَّوَكَّلُ عِباَرَةٌ عَنْ اعْتِمَادِ الْقَلْبِ عَلَى الْوَكِيْل الحَقِّ وَحْدَه

"Menyerahkan diri sepenuhnya (kepada kehendak Allah), dengan segenap hati percaya kepada yang hak yaitu Allah SWT.

 

Ada empat kategori tawakal kepada Allah, yaitu :

a. Tawakal kepada Allah dalam keadaan diri yang Istiqomah serta dituntun

dengan petunjuk Allah, serta bertauhid kepada-Nya secara murni, dan konsisten terhadap agama Allah baik secara lahir maupun batin, tanpa ada usaha untuk memberi pengaruh kepada orang lain. Dengan arti lain tawakal artinya sikap yang berorientasi kepada memperbaiki dirinya sendiri tanpa melibatkan orang lain.

b. Tawakal kepada Allah dalam keadaan diri yang istiqomah seperti

disebutkan di atas, dan ditambah dengan tawakal kepada Allah SWT untuk melakukan amar ma'ruf nahy al-munkar, serta memperhatikan kemaslahatan orang banyak, serta memberi pengaruh pada orang lain untuk melakukan ibadah hanya kepada

Allah. Dan ini adalah sikap tawakalnya para nabi.

c. Tawakal kepada Allah untuk memperoleh kebutuhan duniawi-nya. Sikap tawakal ini dapat memicu kecukupan bagi dirinya dalam urusan dunia serta tidak disertai kecukupan urusan akhirat, kecuali jika ia meniatkan untuk meminta kecukupan akhirat dengan kecukupan dunia itu.

d. Tawakal kepada Allah dalam berbuat haram dan menghindari diri dari perintah Allah.

 

3. Filisofi Pendidikan Ikhlas

اِلَّا التَّقَرُّبَ مِنْ اِلهِكَ ذِى الْكَلَا

اَخْلِصْ وَذَا أَنْ لَاتُرِيْدُ بِطَاعَةٍ

"Janganlah berharap kepada selain Alkah, sebab Dialah Allah yang menjamin kelangsungan hidup".

 

الْاِخْلَاصُ وَهُوَ الرُّكْنُ الْاَعْظَمُ مِنْ اَعْمَالِ الْقَلْبِ الَّذِى عَلَيْهِ مَدَارُ الْعِبَادَاتِ كُلِّهَا

Berdasarkan redaksi di atas, maka terdapat icon penting dalam ikhlas:

 

Pertama, Niat. Kata Allah: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di saat pagi dan petang hari, sedangkan mereka menghendaki keridhaan-Nya (QS 6: 52).

Kedaua, Mengikhlaskan niat

Nabi saw. Bersabda kepada Muadz, “Ikhlaskanlah amal, maka sedikit

darinya mencukupimu”. Ketiga, dapat dipercaya.Ia merupakan kesempurnaan ikhlas. Allah swt menegaskan: Orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah (QS 33: 23)

 

Ikhlas memiliki tanda-tanda yang kasat mata pada kehidupan dan perilaku orang yang ikhlas. Seseorang yang benar-benar ikhlas akan senantiasa:

1. Mengharapkan wajah Allah

Tanda terbesar orang-orang yang ikhlas ialah amal yang mereka kerjakan semata-mata mengharap kebaikan Allah semata. Tidak ada sedikitpun bertujuan mencari kemegahan harta dan dunia.

2. Gemar beramal secara sembunyi-sembunyi

Orang-orang yang ikhlas lebih serius di dalam merahasiakan amal shalihnya dibandingkan dengan merahasiakan dosa.

3. Batin lebih baik daripada lahir

Seorang ikhlas bukanlah menampakkan keshalihan dihadapan orang lain, lalu berbuat buruk saat ia hanya berdua dengan Allah.

 

4. Filosofi Pendidikan Lisan

 

أَعْضَاءِجَمِيْعًا فَاجْهَدَنْ لَاتَكْـسَلَا

وَبِحِفْظِ عَيْنٍ وَاللِّسَانِ وَسَائِرِالْـ

"Pelihara dan lindungi setiap anggota badan dengan penuh semangat melalui lisan yang haq"

 

Sebagai makhluk Allah, manusia sejatinya menyadari bahwa kesejahteraan dan kebahagiaan hidup merupakan sebuah tantangan, dan kebahagiaan ini bisa diraih apabila

seseorang mampu berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungannya secara baik dan benar. Salah satu faktor pundamental untuk membangun komunikasi yang baik dalam lingkungan pergaulan adalah menjauhi segala bentuk dari beragam bahaya narasi lidah.

 

Lidah sesyngguhnya merupakan salah satu anugrah Allah yang diberikan kepada manusia sebagai alat bantu menerjemah dan menyampaikan

pengetahuan dan keimanan. Keimanan dan kekufuran seseorang tiadak akan tegas dan jelas, kecuali dengan kelincahan lidah tersebut. Lidahlah yang menjembatani proses interaksi manusia dengan manusia. Oleh karena itulah Nabi Agung mengingatkan bahwa keselamatan seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana ia dapat menjaga lisannya, dari refleksi yang buruk dan energi negatif.

 

Dipenghujung penjelasannya, Almarhum Kiyai Muharror, menegaskan bahwa sama halnya dalam mendidik anak, ia haruslah mendapatkan pencerahan yang masuk dikapasitas logika dan empatinya mengenai bagaiamana belajar zuhud, tawakal, ikhlas, dan menjaga lisan, agar selamat dunia kini dan akhirat kelak. InsyaAllah.


No comments:

Post a Comment