18 Oktober 2020

Muskilat Matan Kitab Fath Qorib Bab Riba


  

(فصل): في الربا بألف مقصورة لغة الزيادة وشرعاً مقابلة عوض بآخر مجهول التماثل في معيار الشرع حالة العقد، أو مع تأخير في العوضين، أو أحدهما

1.   Ta’rif-nya riba

Murod:

(Fasal) Menjelaskan riba. Lafadz “riba” dengan menggunakan alif maqshurah. (Titik) riba secara bahasa bermakna tambahan. Dan secara syara’ adalah menukar (‘iwadl) sesuatu dengan sesuatu yang lain yang tidak diketahui kesetaraannya di dalam ukuran syar’i ketika akad, atau dengan menunda penyerahan kedua barang yang ditukar atau ( salah satunya.

Muskliat:

Pengertian Riba sebagaimana di ungkapkan dalam kitab matan Fath Qorib ketika di fahami menemukan berbagai permasalahan sehingga sulit untuk di fahami dan menimbulkan persepsi dan pandangan yang berbeda ketika dihadapkan dengan tasowur masalah (gambaran masalah) dalam praktik yang ada. Maka perlu kiranya dalam hal ini untuk memperjelas ta’rif-nya riba, berikut di kutip dari :

Kitab Taqrirat sadidah Juz 2 Hal. 21-22 (Baca selanjutnya). Membahas Dowabit (batas-batasan syarat sah-nya akad riba) supaya dapat memahami ruanglingkup tasowur masalah dengan ta’rif yang sudah di jelaskan dalam syarah ta’rif akad riba di Kitab Taqrirat sadidah Juz 2 Hal. 22-23.


Tidak cukup sampai memahami ta’rif-nya Riba secara rinci untuk dapat memahami secara meluas, maka dari itu para ulama memberikan aqsamu riba (kategori riba), dalam Kitab Taqrirat sadidah Juz 2 Hal. 23 (Karangan, syekh Hasan Ibn Ahmad Ibn Muhammad al-Kaff) menguraikan ketegori riba yang berjumlah 3, hal tersebut sejalan dengan ungkapan Syekh Abu Yahya Zakariya al-Anshory, dalam Fath Wahab Syarah Minhaj at-Tullab Juz 1 Hal 161. Adapun 3 kategori tersebut adalah: 1. Riba Fadl, 2. Riba al-Yadi, 3. Riba al-Nasa’. Dalam uraian lainnya kedua kitab tersebut juga sedikit membahas kategori riba al-Qordi (Riba dalam kasus pinjaman) akan tetapi tidak termuat secara ‘adad, hal ini sejalan dengan ungkapan Syekh Ibrahim al-Bajuri dalam Kitabnya Hasyiyah al-Bajuri Bab Riba, Juz 1 Hal 343, yang mengungkapkan bahwa riba ada 4 kategori, termasuk yang terakhir adalah riba al-Qordi (Riba dalam kasus pinjaman  Jarra Naf’an Lil Muqrid) hal ini mengecualikan dalam akad Rohn (Gadai) yang mana Syekh Ibrahim al-Bajuri mengatakan bahwa hal ini (Jarra Naf’an Lil Muqrid) boleh dilakukan dalam akad Rohn (Gadai) mengecualikan ketika diberikan syarat (Jarra Naf’an Lil Muqrid)  didalam satu akad Rohn. (Lihat Hasyiyah al-Bajuri Bab Riba, Juz 1 Hal 343)

 

Berikut adalah sedikit uraian terkait sulitnya memahami ta’rif riba didalam kitab Fath Qorib, sehingga dengan memahami berbagai rumusan kita dapat menganalisis berbagai tasowur masalah yang ada dengan baik.

Berikutnya:

(والربا) حرام وإنما يكون (في الذهب والفضة و) في (المطعومات) وهي ما يقصد غالباً للطعم اقتياتاً أو تفكهاً أو تداوياً ولا يجري الربا في غير ذلك

Murod:

Akad riba hukumnya haram. Akad riba hanya terjadi pada emas, perak dan makanan. yang di maksud dengan makanan adalah benda-benda yang biasanya (غالباً ) ditujukan untuk makanan guna penguat badan (makanan pokok), buah-buahan, atau obat-obatan. Dan riba tidak terjadi pada selain barang-barang tersebut.

Berikutnya:

(ولا يجوز بيع الذهب بالذهب ولا الفضة كذلك) أي بالفضة مضروبين كانا أو غير مضروبين (إلا متماثلاً) أي مثلا بمثل فلا يصح بيع شيء من ذلك متفاضلاً وقوله (نقداً) أي حالاً يداً بيد، فلو بيع شيء من ذلك مؤجلاً لم يصح

(ولا) يصح (بيع ما ابتاعه) الشخص (حتى يقبضه) سواء باعه للبائع أو لغيره (ولا) يجوز (بيع اللحم بالحيوان) سواء كان من جنسه كبيع لحم شاة بشاة أو من غير جنسه، لكن من مأكول كبيع لحم بقرة

“Sebelum masuk kepada pemahaman murod, perlu kiranya memberikan batasan terhadap pemahaman bahwa matan Fath qorib ini membahasa: Syarat Bolehnya Jual Beli Benda Riba”

 

Murod:
Tidak boleh menjual emas dengan emas, dan menjual perak begitu juga dengan perak, keduanya sudah dicetak ataupun belum, kecuali ukurannya sama. Maka tidak sah menjual sesuatu dari barang tersebut dengan ukuran yang berbeda. Ungkapan mushannif “naqdan” maksudnya adalah serah terima secara langsung. Sehingga, kalau sesuatu dari barang tersebut dijual dengan cara tempo, maka hukumnya tidak sah.

 

Tidak sah menjual barang yang telah dibeli oleh seseorang kecuali ia telah menerimanya, baik ia jual lagi kepada penjual barang tersebut atau pada yang lainnya. Tidak boleh menjual daging yang dibeli dengan binatang. Baik daging dari jenis binatang tersebut seperti menjual daging kambing dibeli dengan kambing, atau dari selain jenis binatang tersebut akan tetapi masih dari dagingnya binatang yang halal dimakan seperti menjual daging sapi dibeli dengan satu ekor kambing.

 

2.   Pemahaman pada (حتى يقبضه) سواء باعه للبائع أو لغيره, jika pemahaman matan di potong dan memulai pembahasan dari lafadz tersebut seolah-olah membangun pemahaman seperti jual beli makelar/dropship, sebenarnya jika di sambung dengan pemahaman sebelumnya maka akan berbeda sebagaimana teks asalnya, “perlu kiranya menela’ah terlebih dahulu.

 

 

Berikutnya:

بشاة (ويجوز بيع الذهب بالفضة متفاضلاً) لكن (نقداً) أي حالاً مقبوضاً قبل التفرق (وكذلك المطعومات لا يجوز بيع الجنس منها بمثله إلا متماثلاً نقداً) أي حالاً مقبوضاً قبل التفرق

 

“Sebelum masuk kepada pemahaman murod, perlu kiranya memberikan batasan terhadap pemahaman bahwa matan Fath qorib ini membahasa: Syarat Bolehnya Jual Beli Emas dan Perak”

 

Murod:

Diperbolehkan menjual emas dibeli dengan perak dengan ukuran berbeda, akan tetapi harus kontan, maksudnya seketika diterima sebelum berpisah.

 

3.   Muskilat pada متفاضلاً, (pemahaman teks matan ketika di fahami terlebih dahulu, bahwa yang di kehendaki dari kebolehan jual beli emas dan perak dengan ukuran berbeda, itu boleh (tidak harus sama), akan tetapi dengan catatan penting: kontan, maksudnya seketika diterima sebelum berpisah. Hal ini sejalan dengan ungkapan syekh Ibrahim al-Bajuri dalam kitab al-Bajuri Juz 1 Hal 346, beliau mengungkapkan bahwa متفاضلاً, yang di fahami adalah dengan menambah ukuran salah satu dari 2 barang (emas/perak), maka dari itu akhir ungkapan beliau أي حالاً مقبوضاً قبل التفرق maka dari hal ini boleh (walaupun emas dan perak memiliki ukuran yang berbeda) 2 syaratnya yaitu : حالاً مقبوضاً (lihat syekh Ibrahim al-Bajuri dalam kitab al-Bajuri Juz 1 Hal 346)

 

Berikutnya:

(وكذلك المطعومات لا يجوز بيع الجنس منها بمثله إلا متماثلاً نقداً) أي حالاً مقبوضاً قبل التفرق
(ويجوز بيع الجنس منها بغيره متفاضلاً) لكن (نقداً) أي حالاً مقبوضاً قبل التفرق، فلو تفرق المتبايعان قبل قبض كله بطل، أو بعد قبض بعضه ففيه قولاً تفريق الصفقة (ولا يجوز بيع الغرر) كبيع عبد من عبيده أو طير في الهواء

 

Murod:

Dan boleh menjual satu jenis makanan dibeli dengan jenis makanan yang lain dengan ukuran berbeda, akan tetapi harus kontan, maksudnya diterima seketika sebelum berpisah. Sehingga, jika kedua orang yang melakukan transaksi berpisah sebelum menerima semua barangnya, maka hukum akadnya batal (barang satu jenis-transaksi tidak kontan) Atau setelah menerima sebagiannya saja, maka dalam permasalahan ini terdapat dua pendapat tentang tafriqus shufqah (memisah akad). Tidak boleh melakukan transaksi yang mengandung unsur tidak jelas/penipuan, seperti menjual salah satu budak dari budak-budaknya-tanpa ditentukan yang mana., atau menjual burung yang sedang terbang di udara.

والله أعلم بالصواب

Refrensi:

- Matan Fath Qorib

- Taqrirat sadidah Juz 2 Hal. 21

- Taqrirat sadidah Juz 2 Hal. 22-23

- Fath Wahab Syarah Minhaj at-Tullab Juz 1 Hal 161.

- Hasyiyah al-Bajuri Bab Riba, Juz 1 Hal 343


(Penulis: Bad’ul Hilmi AR/Ketua Lajnah Bahtsul Masail PP.Miftahul Huda Al-Azhar Kota Banjar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar