Wednesday, October 21, 2020

Pesantren dan Akar Nasionalisme Kaum Santri

 

Oleh: Aji Muhammad Iqbal

Tak perlu ditanyakan lagi soal nasionalisme kaum santri. Nasionalisme kaum santri bukanlah sekedar slogan semata seperti yang didengung-dengungkan oleh para kaum birokrat. 

Nasionalisme kaum santri adalah nasionalisme kerakyatan. Mereka tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang desa. Dari desalah mereka hidup dengan penuh kesederhanaan, tidak banyak neko-neko. Mereka sangat yakin ungkapan Pramoediya Ananta Toer, bahwa kesederhanaan merupakan kekayaan terbesar di dunia ini. Kesederhanaan adalah suatu karunia alam. 

Dari desa juga mereka mampu mengembangkan potensi ekonomi pedesaan, dengan bertani dan bercocok tanam. Mereka pun dapat menghirup udara sejuk pedesaan, merasakan getaran perlawanan rakyat jika ada yang menindas dan bertindak sewenang-wenang terhadap tanah desanya. Dari desa mereka menjadi promotor budaya, menghidupkan rutinan yasinan, tahlilan, mauludan, rajaban, dan budaya lainnya.  

Sebenarnya apa yang menjadi kehidupan kaum santri di desa dan pesantren, merupakan akar kebangsaan rakyat Indonesia. Dari desa dan pesantren, mereka membangun solidaritas sosial yang kokoh, berdikari, ikhlas serta memiliki semangat etos kerja yang tinggi.

Kiai Saifudin Zuhri, dalam bukunya Guruku Orang-orang dari Pesantren, menulis tentang gambaran kehidupan santri. Menurutnya, para santri merupakan anak-anak rakyat.  Mereka paham betul tentang arti dari kata rakyat, kebudayaan rakyat, keseniannya, agamanya, jalan pikirannya, cara hidupnya, semangat dan cita-citanya, suka dukanya, nasibnya, serta liku-liku kehidupan rakyat. Mereka, kata Kiai Saifudin Zuhri,  terlahir dari sana, serta hidup dan matipun dari sana pula. Sebab itu, lanjut Kiai Saifudin Zuhri, para santri dan kiainya benar-benar sangat paham bagaimana arti hidup dalam penjajahan. 

Kiai Ahmad Baso, dalam bukunya Pesantren Studies, menafsirkan gambaran santri yang dikatakan oleh Kiai Saifudin Zuhri. Menurut Kiai Ahmad Baso, ada tiga aspek yang terdapat dari kata-kata Kiai Saifudin Zuhri, diantaranya aspek ontologis, aspek epistemologis dan aspek praksis.  Menurut Kiai Ahmad Baso, Aspek ontologis ini mencakup pada genealogis atau asal-usul dan sosiologis kaum santri. Dalam aspek ontologis tersebut, Kiai Ahmad Baso mengibaratkan jika dalam pepohonan, santri sebagai buahnya, sedangkan rakyat sebagai akarnya. Hal tersebut menegaskan bahwa klaim kaum santri harus mewakili terhadap kepentingan rakyat. Meskipun mobilitas sosial kaum santri kini telah beranjak dan sebagian masuk pada lingkaran elit, namun suara dan gerak langkahnya, tegas Kiai Ahmad Baso, harus menjadi kelanjutan dari suara dan gerakan rakyatnya.  

Ruang lingkup aspek epistemologis ini, kata Kiai Ahmad Baso, terdapat pada bagaimana santri paham tentang arti kata rakyat, paham tentang kebudayaan rakyat, agama rakyat, lalu jalan pikiran rakyat, cara hidup rakyat, semangat dan cita-cita rakyat, suka duka rakyat, nasib rakyat serta seluruh seluk beluk liku-liku hidup rakyat.

Sedangkan aspek praksis, kata Kiai Ahmad Baso, santri dan kiai sangat paham betul bagaimana arti hidup dalam penjajahan. Artinya, pada level praksis inilah, santri sangat menolak segala bentuk penindasan, kekerasan, penghisapan dan penjajahan bagi siapa saja yang merampas hak hidup bangsa Indonesia. 

Dari pedesaan mereka berasal, dari pesantren mereka dididik dan digembleng oleh gurunya yang disebut kiai. Dari wawasan pengetahuannya, hingga mental populisnya. Menurut Soetomo, sebagaimana yang ditulis oleh Kenji Tsuchiya dalam buku Demokrasi dan Kepemimpinan: Kebangkitan Gerakan Taman Siswa,  pesantren adalah tempat  di mana jiwa siapa saja yang egoistik dapat bermetamorfosis menjadi jiwa yang siap berkorban untuk kepentingan rakyat.

Meski sebagian orang masih tabu bicara pesantren, melihat pesantren hanya dalam fisiknya saja, berkutat pada soal jorok dan kurang mengindahkan kesehatan dan kebersihan, meminjam istilah Kyai Ahmad Baso, penggambaran yang seperti demikian adalah tipikal konstruk abad 20, namun soal idealisme pesantren yang anti kolonial janganlah diabaikan.  

Wallohu 'alam

1 comment:

  1. Dan Pesan utama untuk hari santri nasional untuk kali ini adalah jagalah dan pelihara lah NKRI. Soalnya para kiai dan para santri telah berjuang bersama-sama mendirikan RI,”

    Dan pemerintah juga harus mengingat kembali bahwa aspek lain yang melatarbelakangi penetapan HSN ini adalah pengakuan resmi pemerintah Republik Indonesia atas peran besar umat Islam dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga NKRI.
    Lain dari itu pun betul apa yg di sampaikan sang penulis pak Azi otu, bahwasanya jangan sampe melihat para kaum sarungan ini di pandang sebelah mata, melainkan lihat lah isi dan perjuangannya itu,
    Maka saya lebih sepakat Ter hadap pemerintahan daerah sampe pemerintahan RI agar supaya memberikan perhatian lebih terhadap kaum sarungan/santri.

    ReplyDelete