25 Desember 2023

Kala Gus Dur Datang ke Ponpes Citangkolo, Dijegal Rezim Orde Baru

Gus Dur saat berkunjung ke Ponpes Citangkolo

Alazhar - KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, merupakan sosok yang meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Indonesia.

Lahir pada 7 September 1940, Gus Dur tidak hanya dikenal sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU), tetapi juga sebagai Presiden Indonesia keempat yang menjabat pada tahun 1999 hingga 2001.

Sebagai ketua umum PBNU pada masanya, Gus Dur berperan besar dalam mengembangkan organisasi ini menjadi kekuatan sosial dan keagamaan yang mengakar kuat di Indonesia. Keberaniannya dalam menyuarakan pendapat dan pandangan kontroversial membuatnya dicintai dan dihormati oleh banyak orang.

Kegigihannya dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia, membuat dirinya dikenal sebagai pejuang pluralisme dan toleransi. Ia mempromosikan keberagaman budaya, agama, dan suku di Indonesia.

Kebijaksanaannya merangkul semua lapisan masyarakat, menciptakan landasan kuat bagi harmoni antaragama dan kemajemukan dalam negara. Hal itu yang membuat cucu pahlawan nasional itu istimewa dalam pandangan orang banyak. Bahkan kehadirannya pun sangat dinantikan oleh masyarakat luas.

Gus Dur Datang ke Ponpes Citangkolo Dalam Bayang-bayang Orde Baru

Semasa hidupnya, salah satu momen penting kunjungan Gus Dur ke wilayah Jawa Barat adalah saat ia menghadiri undangan ke Pondok Pesantren Citangkolo Banjar pada tahun 1996.

Namun, kedatangan Gus Dur ke pesantren tersebut tidak semudah yang dibayangkan.

Pada masa itu, Orde Baru sedang menikmati kejayaan kekuasaannya. Sebaliknya, sejak tahun 1990, Gus Dur menjadi sosok yang sangat diawasi oleh Soeharto karena sering kali dianggap sebagai ancaman bagi pemerintah.

Menurut Greg Barton, dalam bukunya berjudul "Biografi Gus Dur," menggambarkan Abdurrahman Wahid sebagai sosok yang aktif dan vokal dalam gerakan masyarakat sipil. Bagi rezim Soeharto, keberanian dan kegiatan Gus Dur dianggap sebagai sumber masalah dan kurang dapat dipercaya.

Misalnya pada tahun 1991, Gus Dur mendirikan Forum Demokrasi, sebuah wadah yang melibatkan 40 intelektual aktivis sosial dari berbagai latar belakang agama. Tujuan Forum Demokrasi adalah menjadi penyeimbang terhadap lembaga-lembaga baru seperti ICMI, yang dianggap mendorong sektarianisme. Keberadaan Forum Demokrasi menjadi perhatian serius baik dari pemerintah orde baru maupun militer.

Soeharto dan militer pada masa itu merasa terancam oleh keberadaan Gus Dur dan perjuangannya dalam Forum Demokrasi. Keterlibatan Gus Dur dalam organisasi tersebut semakin memperkuat perlawanan terhadap rezim otoriter yang berkuasa.

Tuan Rumah Diinterogasi Kepolisian

Salah satu pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo, KH Muin Abdurrohim menjadi saksi langsung akan perjuangan yang dilakukan untuk mengundang Gus Dur ke pesantrennya itu.

Abah Muin, sapaan akrabnya, membagikan kenangannya saat diwawancarai penulis ketika usaha mengundang Gus Dur menjadi langkah yang penuh rintangan.

Sebab, pemerintah pada saat itu sangat membatasi kegiatan yang dianggap potensial mengancam rezim. Bahkan, dia sendiri dipanggil ke polres dan polda oleh intel, mengalami interogasi, dan dimintai KTP sebagai bagian dari tekanan terhadap upaya tersebut.

Meski dihadapkan pada berbagai halangan dan rintangan, semangat untuk membawa Gus Dur ke Citangkolo tidak tergoyahkan.

Atas dukungan ayahnya bernama Simbah Abdurrohim yang setia terhadap NU, akhirnya putera mahkota pendiri NU berhasil datang.

Namun tidak sampai disitu. Menurut Abah Muin, kisah menarik muncul saat Gus Dur akhirnya tiba di Citangkolo. Meskipun orang-orang telah bersiap-siap untuk menyambutnya, kehadiran Gus Dur terasa seperti keajaiban. Setelah orang-orang pulang dan suasana sepi, baru kemudian Gus Dur datang. Momen ini menciptakan nuansa dramatis untuk menghindari bayang-bayang intel terhadap kehadiran Gus Dur.

Memberkahi Berdirinya Kampus STAIMA Banjar

Salah satu kenangan kedatangan Gus Dur ke Citangkolo yang masih ada hingga saat ini adalah adanya kampus STAIMA Banjar yang berdiri secara dejure tahun 1990.

Menurut rektor STAIMA, KH Muharrir Abdurrohim, di tengah tekanan dan hambatan yang tersebar di berbagai lapisan, ia bersyukur bahwa akhirnya berhasil membawa Gus Dur untuk mendeklarasikan berdirinya STAIMA secara de facto pada tahun 1996.

Keberanian ini melahirkan momen bersejarah saat STAIMA didoakan oleh Gus Dur dengan bismillah dan fatihah, memberikan berkah bagi perjalanan perguruan tinggi tersebut.

Pada acara tersebut, MC dipegang oleh Pak Lili Hasanudin, seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang juga menjadi anggota DPR pada masanya. Namun, keterlibatan Pak Lili sebagai MC membuatnya dipecat oleh Orde Baru, menandakan seberapa besar tekanan yang dihadapi oleh mereka yang terlibat dalam acara tersebut.

Meskipun pada awalnya hanya dimulai dengan sembilan mahasiswa, STAIMA berdiri kokoh. KH Muharrir Abdurrohim menyaksikan dengan bangga perkembangan perguruan tinggi yang ia rintis hingga saat ini telah meluluskan ribuan sarjana yang tersebar di seluruh Indonesia.


Demikian kilas sejarah datangnya Gus Dur ke Pondok Pesantren Citangkolo dalam situasi dan kondisi yang penuh perjuangan karena berada dalam bayang-bayang rezim Orde Baru.


(Aji Muhammad Iqbal/ Esensi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar