Friday, January 14, 2022

Optimalisasi Peran Teknologi dalam Mensuport Kinerja Pendidikan Keislaman dan Keindonesiaan


Oleh: Mugni Muhit 

(ALKAMAL-Alumni keluarga Miftahul Huda Al-Azhar)

Model pendidikan dan pembelajaran jarak jauh dewasa ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pengajar dan atau guru, bahkan bagi negara sebesar Indonesia, maka teknologi sesungguhnya memegang peran strategis dalam membangun produktivitas pendidikan berbais norma dan nilai islam, serta pembelajaran berakar  kebangsaan indonesia.


Pendidikan sudah menjadi tantangan cukup besar bagi generasi bangsa Indonesia. Pandemi yang belum kunjung usai, menyebabkan sekolah-sekolah ditutup, atau setidaknya tarik ulur antara daring dan luring, online dan offline di seluruh wilayah. Situasi ini berdampak hebat terhadap 69 juta siswa dari prasekolah hingga tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kuantitas pelajar negeri ini melampaui jumlah populasi Korea Selatan, Hong Kong, dan Singapura, jika ketiga negara ini digabungkan, maka tentu membutuhkan ruang pembelajaran yang luar biasa. 


Ruang kelas adalah tempat yang sakral bagi guru dan siswa. Di sinilah guru menciptakan harapan dan membangun hubungan dengan siswanya sebagai fondasi dalam proses pembelajaran. Pertanyaan yang dihadapi para pendidik di Indonesia dewasa ini adalah bagaimana proses belajar mengajar ini bisa dilakukan dari jarak jauh ?


Agar siswa dapat melanjutkan pendidikan mereka selama sekolah ditutup, banyak negara beralih ke metode pengajaran online. Tetapi metode tersebut ternyata mempersulit sebagian siswa, terutama mereka yang memiliki akses internet terbatas. Hal ini merupakan problema serius yang menurut para ahli dapat memperlebar ketimpangan pendapatan di masa mendatang.


Bagi negara seperti Indonesia yang memiliki sistem pendidikan terbesar keempat di dunia, masalah ini merupakan sebuah tantangan yang sangat besar. Munculnya tantangan ini bersamaan dengan hadirnya peluang hebat dengan melakukan alih strategi berbasis IT.


Pendidikan yang sejatinya melahirkan insan cendikian yang beriman dan bertaqwa, kreatif dan mandiri di segala situasi dan keadaan, mesti dirancang dan diadaptasikan dengan tuntutan perkembangan zaman. Zaman kekinian yang semakin menunjukan pentingnya kolaborasi dengan internet, maka bagi para pihak yang berkepentingan dengan dunia pendidikan, mesti semakin melek teknologi.


Para pendiri, pengembang dan pengelola pendidikan pun tak terkecuali, mesti ramah atas perkembangan lingkungan modern dewasa ini. Segala bentuk pelayanan harus didorong dan dikemas dengan dan beserta alat teknologi modern. 


Kabar menggembirakan, per hari ini bahwa pemerintah akan membuka lebar kebijakan sekolah tatap muka kembali setelah beberapa semester belajar di dunia maya. Hanya meski persekolahan dasar hingga perguruan tinggi telah dibuka secara normal, penggunaan teknologi harus semakin optimal. Teknologi informasi dan komunikasi bagi lembaga pendidikan sekarang posisinya adalah harga mati. 


Sekurang-kurangnya optimal itu didukung oleh tiga indikator berikut:

1. Tersedia jaringan internet dengan kapasitas yang memadai dan interkoneksional

2. Seluruh sistem pelayanan proses pendidikan, pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, serta kerjasama multikoneksi, berbasis jejaring.

3. Operator ahli yang bersertifikat.


Apalagi bagi lembaga pendidikan islam, yang notabene sumber daya manusianya masih tergolong belum maju, dengan sarana dan prasarana yang selalu belum optimal, termasuk pendanaan dan pembiayaan operasional harian, mingguan, bulanan, dan tahunan masih berkekurangan. Kondisi justru tidak boleh menjadikan semakin buruk lagi dengan tidak adanya akses yang maksimal dan intervensi teknologi yang memadai. 


Pendidikan keislaman dan keindonesiaan perlu didorong oleh teknologi mutakhir berbasis internet. Di mana semua pelayanan dan pembangunan manusia indonesia yang seutuhnya dapat tercapai dengan optimalisasi teknologi. Teknologi mesti dijadikan alat utama bagi akselerasi arus ppembangunan sumber daya manusia (SDM) dan Manusia Sumber Daya (MSD). 


Pendidikan keislaman artinya pendidikan dan pembelajaran yang disuport oleh kearifan dan nilai islam sebagai nutrisi rohani dan jiwa yang suci. Sementara pendidikan keindonesiaan adalah ramuan pendidikan dan strategi pembelajaran serta konten pendidikannya yang disesuaikan dengan kearifan bangsa serta kebijaksanaan nasional. Kepentingan dualisme ini adalah kepentingan kemajuan dan kemoderenan kehidupan berbangsa dan bernegara.


Interkoneksional SDM dan MSD akan semakin kuat manakala terjadi sublimasi dan perkawinan daya keduanya melaui jembatan teknologi. Para tekdik dan para peserta didik harus didorong menjadi insan yang di samping teladan akhlaknya juga dapat diteladani kepiawaiannya dan skillnya di bidang teknologi.

No comments:

Post a Comment