Sunday, February 14, 2021

Tantangan Mendidik Generasi Muslim Milenial di Era Revolusi Industri 4.0 Untuk Menciptakan Lingkungan Pendidikan Islam Modern

 

Oleh: Mugni Muhit

(Al-Kamal-Alumni Keluarga Miftahul Huda Al-Azhar)

Derasnya arus perubahan era revolusi industri 4.0, mendorong kuat tumbuhnya harakah pendidikan yang lebih bermakna dan berdaya konstruktif. Hal ini sebab revolusi industri 4.0 berdampak dan berpengaruh hebat terhadap eksistensi, citra, dan martabat pendidikan. Ada pergeseran sikap yang ditunjukan seorang terdidik generasi millenial, dimana aktivitas digital, arus informasi dan teknologi industri 4.0 menjadi warna hidup dan cara pandangnya.

 

Manakala subjek pendidikan belum cukup umur, masih tidak siap menghadapai kenyataan, sementara situasi global telah menyudutkannya, maka hal itu hanya akan melahirkan sosok dan pribadi generasi yang apatis dan tak memiliki nilai. Bahkan watak dan tabiat yang inkonsistensi akan mewarnai ranah kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.

 

Sikap inkonsistensi yang menggejala antara lain: ketagihan fasilitas smartphone yang serba canggih, bergesernya tujuan dan motif edukasi terdidik kepada rekreatif dan playing semata, hingga mengakibatkan terjadinya degradasi moral dan cacatnya akhlak. Jika kondisi ini tidak segera ditangani dengan serius, maka mengakibatkan maraknya sikap amoralisasi, serta asusila yang bertentangan dengan nilai keislaman dan keindonesiaan. Fenomena dekadensi moral ini, seringkali dialamatkan kepada lembaga pendidikan sebagai kegagalannya.

 

Maka sebagai tantangan sekaligus tuntutan, para pemangku kepentingan, teoretisi, dan praktisi pendidikan, termasuk para orang tua keluarga muslim, segera ciptakan racikan model pendidikan strategis, yang efektif positif bagi liquiditas spritual dan intelektual generasi millenial di era industri 4.0 ini.

 

Spirit pendidikan yang paling efektif bagi tumbuhkembangnya peserta didik adalah teladan guru. Guru yang memiliki ruh jihad dan ilmu pengetahuan yang mumpuni, dapat dengan baik hadirkan peserta didik yang kredible dan moralis. Aspek penting yang kredible dan sangat substansial adalah interpensi lingkungan atau milleu. Milleu diyakini menjadi salah satu sumber inspirasi repleksi pendidikan bermutu.

 

Agar lingkungan benar benar mampu menjadi pioner dan penerang sekaligus jembatan suksesi pendidikan, maka lingkungan pendidikan sejatinya direkayasa sedemikian rupa hingga menarik, inspiratif dan enjoyable bagi peserta didik. Nabi sendiri dengan tegas menyatakan bahwa lingkungsn amat sangat berpengaruh bagi tumbuhkembangnya peserta didik. Bahkan lingkungan menentukan arah dan pola serta mindset dan pargdigma peserta didik. Perubaan mindset tersebut berlaku pada aspek-aspe penting seperti akidah, ubudiyah, muamalah, siyasah dan sebagainya.

 

Oleh karena itu, mutu pendidikan salah satunya dan memiliki porsi paling besar adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang baik akan mengawal kebaikan, dan lingkungan yang buruk akan mempengaruhi keburukan. Dengan kata lain, baik dan buruknya produk pendidikan ditentukan oleh desain, skenario, corak dan warna lingkungan.

 

Desain

Tarbiyah Nabawiyah (model pendidikan Nabi). Cara nabi mendidik dan mentransformasikan nilai (value), kepada para sahabatnya harus ditiru lalu diadaptasikan dengan pola pendidikan masa kini. Prioritas dalam pendidikan nabawi adalah ruh (tarbiyah ruhiyah). Manakala ruh atau jiwanya sudah terpatri nutrisitas iman dan taqwa serta nilai positif lainnya, maka arah pendidikan berikutnya akan cerah dan cenderung berhasil. Sasaran pendidikan ala Nabi secara sistematik mulai dari hati (qalb, syaghaf, fuad, lubb). Setelah hati dan jiwa yang telah terpenetrasi tauhidullah dengan baik, langkah berikutnya adalah melatih raganya. Seluruh panca indra sejatinya dibina, dibimbing dan diarahkan pada yang seharusnya.

 

Skenario

Bagaimanapun pendidikan itu mesti direkayasa. Rekayasa yang mendorong sinergitas seluruh komponen dan para pemangku kepentingan sebagai elementary pertama. Subjek dan objek pendidikan dkomunikasikan dalam visi dan misi yang tegas, terkonfirmasi, dan memungkinkan. Lalu kolaborasikan dan afirmasikan dengan fakta integritas publik, hingga semua kebijakan diterima dengan baik.

 

Corak

Corak pendidikan ideal seharusnya menjadi branding lembaga pendidikan. Banyak para penggiat pendidian yang lupa dan meremehkan aspek branding ini. Atau keliru dalam merealisasikan fungsi branding dalam sisitem komunikasi pendidikan. Tidak ada tawar menawar lagi bahwa pendidikan masa kini mesti memiliki corak dan warna yang khas. Jati dirinya akan mudah diingat, dikenang, dan lambat laut dicintai, bahkan oleh seluruh segemntasi. Tentang kecenderungan corak, ada banyak pilihan, misalnya corak yang berbasis idiologi, paradigma, opini publik, kharismatik, idealisme, ketokohan, nasionalisme, religiusitas. Tentukan sikap lembaga memilih corak yang mana lalu konsisten dan komitmen pada pilihan itu.

 

Dengan begitu diharapkan dedikasi, loyalitas, sense of be longing, sense of responsibility, serta gharah dan daya jihad dalam ruh yang lillah dan profesional akan bertumbuh dan berkembang mekar. Konsep ini sejalan dengan mindset para ulama, antara lain:

اذا اشرقة في بدايته اشرقة في نهايته

"perencanaan yang matang dan sinergi, serta terhubung dengan semua energi positive, niscaya akan meraih akhir yang menjanjikan dan berkeunggulan".

 

Wallahu a'llam bishawab


No comments:

Post a Comment