Monday, October 7, 2019

Peran Bu Nyai Dalam Pembangunan Akhlak di Pondok Pesantren


Oleh : Siti Aisyah
Bu Nyai adalah perempuan, isteri kyai yang sama sama menjadi panutan para santri. Bu Nyai ponpes Al-Azhar Citangkolo mayoritas adalah para penghafal Qur’an. Dari rahimnya lah para generasi, putera puteri pak yai terlahir. Begitupun para santri putra putri yang tidak terlepas darinya dalam kehidupan sehari-hari.

Pondok pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan islam tertua yang masih dirasakan manfaatnya hingga detik ini. Dari pondok pesantrenlah masyarakat mengenal ilmu agama dan bersosial dengan baik.  Jika menengok kedalam sejarah Indonesia, banyak sekali perempuan yang terlibat dalam kemerdekaan Indonesia. seperti  R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Nyai Ahmad Dahlan, Nyi Ageng Serang, Laksamana Malahayati,  mereka adalah para santriwati. Bahkan, dalam dikatakan bahwa RA Kartini adalah murid dari Sunan Darat dan Penghafal Qur’an 17 Juz. Beliau dan gurunya, Sunan Darat adalah penerjemah tafsir pertama kali dalam bahasa Jawa.

Pondok pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar Jawa Barat  merupakan pondok tertua di kota Banjar Jawa Barat. Tak hanya itu, pondok tersebut juga sangat kental sekali dengan faham Aswaja An-Nahdliyah. Para pengasuh pondok pesantren  menerapkan sistem NU Cultural seperti pengajian Reboan, Slasaan, Pahingan yang biasa dilakukan oleh para Bu Nyai dan ibu-ibu sekitar pondok. Wajar saja, karena pondok pesantren ini bertempat di tengah pemukiman masyarakat desa.

Pondok yang ikut serta dan terlibat langsung dalam mengusir penjajah dari bumi Jawa Barat ini, konon pernah disinggahi oleh pangeran Diponegoro. Menurut  Iip D Yahya, penulis buku sekaligus pemimpin redaksi nujabar, ciri khas  daerah yang pernah disinggahi pangeran Diponegoro yaitu dengan adanya pohon sawo. Dengan adanya pohon sawo merupakan simbol bahwa daerah tersebut pernah disinggahi oleh pangeran Diponegoro.

Pondok yang sangat akrab dengan masyaarakat desa ini, sangat wajar dan biasa jika berbaur dan lekat dengan masyarakat desa. Karena pondok ini terletak didusun Citangkolo. Dusun yang dahulu merupakan markas tentara untuk mengusir penjajah dari bumi Jawa Barat  ini.

Pondok yang berdiri sejak tahun 1960 ini sampai saat ini menjadi pusat mengaji  bagi masyarakat setempat. Budaya NU kultural dan para kyai kampung yang tidak bisa terlepas menjadikan sikap santri terbentuk dan bergerak untuk mempunyai jiwa toleran, simpati dan tolong menolong.

Peran bu Nyai dalam pembangunan pondok salah satunya dengan beberapa nasihatnya. Nasihat bukan sekedar nasihat. Seperti halnya seorang ibu yang selalu menasihati anaknya, begitupun bu Nyai dengan santriwati. Nasihat yang dilontarkan tidak hanya berbentuk ucapan saja, melainkan dengan dipraktekan langsung dihadapan santriwati.

Nasihat seperti “Jangan sia-siakan makanan walau sedikit. Jangan hobi membuang makanan,”  merupakan hal kecil yang terkesan biasa. Namun, tahukah anda jika dengan membuang makanan bisa mengurangi keberkahan dari makanan itu. Bahkan dengan membuang makanan bisa termasuk dalam golongan orang yang kurang bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Kata-kata itu terlontar kepada para  santriwati  saat roan (bersih-bersih dilingkungan pondok pesantren).
Nasihat lainnya “Jadi orang itu harus tahu apa yang diinginkan oleh orang yang ada disekitar kita, Kita harus menerapkan rasa simpati terhadap sesama kita. Jika ada warga yang akan melakukan hajat seperti tasyakuran, baiknya kita datang untuk membantunya”. Ajarnya. Kata-kata tersebut terlontar sesuai dengan budaya santriwati untuk membantu warga sekitar dalam acara tasyakuran walimatul ursy ataupun khitanan dan tasyakuran lainnya.  

Contoh lain mengenai nilai dan sikap yaitu ketika dalam majelis sema’an Al-Qur’an, pengajian ataupun perkumpulan dengan orang sholeh,  adab berjalan ketika dalam majelis tersebut yaitu berjalan setengah badan atau berjalan dengan memakai lutut sebagai tumpuannya. Apalagi ketika mengaji pastilah berjalan dengan sikap melutut. Sikap demikian merupakan cerminan untuk menghormati Al-Qur’an dan ahlinya. Seperti nasihatnya, yaitu karena hormat lebih utama daripada ilmu.

Pola penddikan yang diterapkan dalam pondok ini sangat khas dengan budaya orang kampung. Tapi bukan kampungan. Sikap dan perilaku yang diajarkan oleh para pengasuhnya sangat toleran. Budaya yang saat ini langka dan hampir punah dengan adanya tekhnologi yang mampu melupakan dan merubah budaya serta sikap perilaku anak-anak zaman sekarang.

Sikap terpuji itu harus dimiliki oleh setiap manusia. Meskipun tidak bisa dipungkiri setiap manusia pasti mempunyai sifat tercela yang hinggap pada dirinya. “Budaya demikian yang sudah biasa dan tumbuh di masyarakat sekitar pondok pesantren. Budaya itulah yang sedikit demi sedikit membentuk sikap dan perilaku santri putri memiliki sikap toleran, simpati dan tolong menolong.
Setiap perintah yang keluar dari mulut seorang guru pasti menjadi tanggung jawab santri untuk melakukannya. Semua santri akan patuh pada perintah kyai dan Bu Nyai nya. Begitu pola ajaran yang diajarkan dipondok pesantren ini.

(Alazhar Media/Siti Aisyah/7/10/2019)

No comments:

Post a Comment