Sunday, May 5, 2019

Menggapai Derajat Kemuliaan Dengan Domir Mustatir


ومن ضمير الرّفع ما يستتر # كافعل أوافق نغتبط إذتشكر
“Dan diantara domir mahal rofa’ terdapat domir yang tersimpan, seperti lafadz :  "افعل أوافق نغتبط إذتشكر
(al-Fiyah Ibn Malik, Bait ke-60)
Maksud nadzom :
Domir mustatir (yang tersimpan) terbagi menjadi 2 bagian, yaitu mustatir wujub (wajib tersembunyi), dan mustatir jawaz (tidak wajib tersimpan), adapun pengertian domir mustatir wujub ialah domir mustatir (tersimpan) yang posisinya tidak dapat digantikan oleh isim dohir, sedangkan pengertian domir mustatir jawaz ialah domir mustatir (tersimpan) yang posisinya dapat digantikan oleh isim dohir.

Dalam nadzom diatas disebutkan 4 macam domir mustatir wujub, yaitu :
1.  Pada contoh : افعل (fiil amr) yang bermakna mufrod mudzakar mukhotob, domir yang tersimpan ialah أنت , namun tidak dapat ditampakan oleh isim dohir, yakni tidak boleh di ucapkan افعل زيد misalkan, dengan menganggap زيد sebagai fa’ilnya. Adapun jika menganggap lafadz أنت sebagai taukid dari domir yang tersimpan, maka diperbolehkan.
Konteks mahal (tempat) keadaan i’rob rofa di maknai sebagai tempat yang mulia, sebagaimana kedudukan tingkah ucapannya ketika diucapkan, makna ro’fa pada domir mustatir wujub (domir yang tersimpan) ini memberi pelajaran bahwa ketika manusia berbuat sesuatu (menjadi fa’il/pelaku) didalam makna أنت dari pada perintah agama maka jangan pernah merasa dirinya ingin di tampakan (dohir) terhadap semua perbuatan baiknya, ketika perbuatan itu dilakukan walaupun dapat di pandang baik, akan tetapi perbuatan itu bukan karena ikhlas, semata ingin menampakan kebaikkannya, untuk mengharap sanjungan atau pujaan orang lain, maka perbuatan seperti itu akan membawa sifat riya, dan jauh dari sifat ikhlas karena Allah SWT. Maka derajat kemuliaan (ro’fa) disisi Allah SWT tidak akan dicapainya.

2. Pada contoh :    أوافق(Fiil Mudlari) dengan diawali hamzah mudloro’ah yang bermakna waqi mutakalim wahdah. Domir yang tersimpan didalamnya ialah أنا (mutakalim wahdah). Apabila diucapkan أنا   أوافق, maka lafadz أنا ialah hanya menjadi taukid untuk domir yang tersimpan, bukan sebagai fa’il (pelaku).
Masih dalam konteks mahal (tempat) keadaan i’rob rofa di maknai sebagai tempat yang mulia, sebagaimana kedudukan tingkah ucapannya ketika diucapkan. Makna wajibnya domir mustatir (tersimpan) pada contoh nomor 2, dalam kalimat fi’il mudlari     أوافق memberikan pelajaran, bahwa apapun yang sedang dan akan dilakukan oleh manusia untuk menggapai derajat kemuliaan (ro’fa), wajib bagi dirinya dalam segala amal kebaikannya untuk tidak mengharap dan menampakannya semata untuk mendapatkan pujian dari orang lain, maka berbuatlah karena Allah SWT (ikhlas), karena ikhlas akan menghantarkan manusia pada derajat yang tinggi disisi Allah SWT. Bukan mengharap ditampakan perbuatan baiknya, tapi disembunyikan karena lafad أنا, boleh di tampakan, akan tetapi bukan menjadi fa’il (pelaku) tetapi hanya menjadi taukid (penguat) dari syi’ar agama untuk menebarkan kebaikan.  Maka derajat kemuliaan (ro’fa) disisi Allah SWT akan dicapainya.

3.  Pada contoh : نغتبط (Fiil Mudlari) dengan diawali  nun mudloro’ah  yang bermakna mutakalim ma’al ghoir. Domir yang tersimpan didalamnya ialah نحن (mutakalim ma’al ghoir). Apabila diucapkan نحننغتبط  , maka lafadz نحن, ialah menjadi taukid untuk domir yang tersimpan, bukan sebagai fa’il (pelaku). pada contoh nomor 3, dalam kalimat fi’il mudlari     نغتبط memberikan pelajaran, bahwa apapun yang sedang dan akan dilakukan oleh sekumpulan manusia (organisasi/jam’iyah) untuk dapat menggapai derajat kemuliaan (ro’fa), wajib bagi golongannya, dalam segala amal kebaikannya untuk tidak mengharapkan dan menampakannya, semata untuk mendapatkan pujian dari orang lain, maka berbuatlah karena Allah SWT (ikhlas) karena ikhlas akan menghantarkan manusia (organisasi/jam’iyah) pada derajat yang tinggi disisinya (Allah SWT). Bukan mengharap ditampakan perbuatan baiknya, tapi disembunyikanlah, karena lafad نحن, boleh di tampakan, akan tetapi bukan menjadi fa’il (pelaku) tetapi hanya menjadi taukid (penguat) dari syi’ar agama dan tujuan kebaikan demi kemaslahatan bersama. Maka derajat kemuliaan (ro’fa) disisi Allah SWT akan dicapainya.

4.  Pada contoh :  تشكر (Fi’il Mudlari) dengan diawali ta mudloro’ah yang bermakna mufrod mudzakar mukhotob, domir yang tersimpan didalamnya ialah أنت. Apabila di ucapkan تشكرأنت, maka lafadz أنت ialah menjadi taukid, bukan menjadi fa’il (pelaku). Pada contoh nomor 4, memberikan pelajaran kepada manusia, hendaknya tidak menampakan dan menyebarkan aib orang lain, akan tetapi manusia seharusnya menyebarkan dan menceritakan kebaikan orang lain dan bersikap husnudzon, kedudukannya bukan menjadi fa’il (pelaku), akan tetapi menjadi taukid (penguat) dalam menyebarkan kabaikan orang lain dan senantiasa menjadi benteng dalam menghalangi segala perbuatan buruk. Maka derajat kemuliaan (ro’fa) disisi Allah SWT akan dicapainya.

(Penulis: Bad’ul Hilmi AR/Ketua Lajnah Bahtsul Masail PP.Miftahul Huda Al-Azhar Kota Banjar)


No comments:

Post a Comment