Friday, November 22, 2019

Kisah Rasulullah SAW Tentang Pentingnya Persatuan dalam bingkai Keberagaman Suku dan Golongan


Perbedaan adalah Rahmat Tuhan, namun bagi sebagian kecil orang menganggap bahwa, perbedaan adalah sebuah musuh dan kerap dijadikan persoalaan, hal ini sering menjadi akar perselisihan sehingga menimbulkan baku hantam, lebih-lebih bertindak anarkis dan radikal. Tentu hal ini sangat mengancam persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia yang sudah di jalin dan di ikat oleh para pendiri Bangsa. Menyikapi persoalan dan fenomena yang semakin menjadi kiblat bagi sebagian orang yang tidak menerima perbedaan, mari kita bermuhasabah dan membaca kembali catatan kehidupan dari manusia pilihan dan utusan Allah SWT Nabi Muhammad SAW, dalam merajut perdamaian dan mengutamakan persatuan di atas semua golongan.
Al-kisah, Pada usia 35 tahun, orang-orang Quraisy sepakat untuk merenovasi Ka’bah, karena itu berupa susunan batu-batu, lebih tinggi dari badan manusia, tepatnya 9 hasta yang di bangun sejak masa nabi Ismail as, tanpa adanya atap, sehingga banyak pencuri yang sering mengambil barang-barang berharga yag tersimpan didalamnya.
Lima tahun sebelum masa kenabian, kota Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke Baitul Haram, sehingga sewaktu-waktu bisa membuat Ka’bah menjadi runtuh. Kondisi seperti itu membuat bangunan Ka’bah semakin rapuh dan didingnya-pun sudah pecah-pecah. Sementara itu, orang-orang Quraisy di hinggapi rasa bimbang antara merenovasi atau membiarkan apa adanya. Namun, akhirnya mereka sepakat untuk hanya memasukan bahan-bahan bangunan yang baik-baik. Mereka tidak menerima dana dari penghasilan para pelacur, jual beli dengan sistem riba, dan perampasan terhadap harta orang lain, Meski sudah demikian, mereka merasa takut untuk merobohkannnya, akhirnya Al-Walid bin Mughiroh Al-Makhzumi mengawali perobohan bangunan Ka’bah, lalu diikuti oleh semua orang, setelah mengetahui tidak ada sesuatu-pun yang menimpa Al-Walid, mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunan Ka’bah, hingga sampai rukun Ibrahim, setelah itu, mereka siap membangunnya kembali.
Mereka membagi sudut-sudut Ka’bah dan mengkhususkan setiap kabilah dengan bagiannya sendiri-sendiri, setiap kabilah mengumpulkan batu-batu yang baik dan mulai membangun, yang bertugas menangani urusan renovasi pembangunan Ka’bah ini adalah seorang Arsitek berkebangsaan Romawi yang bernama Baqum-nama aslinya adalah Pachomius.
Tatkala pembangunan sudah sampai di bagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakan Hajar Aswad itu di tempat semula, perselisihan ini terus berlanjut selama 4-5 hari, tanpa adanya keputusan. bahkan, perselisihan itu semakin meruncing dan hampir saja menjurus kepada pertumpahan darah di Tanah Suci.
Akhirnya, Abu Umayyah bin Al-Mughiroh Al-Makhzumi tampil dan menawarkan jalan keluar dari perselisihan diantara mereka, dengan menyerahkan urusan ini kepada siapapun yang pertama kali masuk melalui pintu masjid, kemudian mereka menerima cara ini. Allah SWT menghendaki orang yang berhak tersebut adalah Rasulullah SAW, tatkala mengetahui hal ini, mereka berbisik-bisik,”Inilah Al-Amin-kami rela kepadanya-Inilah dia Muhammad”.
Setelah mereka berkumpul di sekitar beliau dan mengabarkan apa yang harus beliau lakukan, maka beliau meminta sehelai slendang, lalu beliau (Rasulullah SAW) meletakan Hajar Aswad tepat ditengah-tengah selendang, lalu meminta pemuka-pemuka kabilah yang saling berselisih untuk memegang ujung-ujung selendang, lalu memerintahkan mereka secara bersama-sama mengangkatnya, setelah mendekati tempatnya, beliau mengambil Hajar Aswad dan meletakannya ditempat semula, ini merupakan cara pemecahan yang sangat jitu dan memuaskan hati semua orang.
Orang-orang Quraisy kehabisan dana dari penghasilan yang baik, maka mereka menyisakan dibagian utara, kira-kira 6 hasta yang kemudian disebut Al-Hijr atau Al Hathim, mereka membuat pintunya lebih tinggi dari permukaan tanah, agar tidak bisa dimasuki kecuali oleh orang-orang yang sangat menginginkannya, setelah bangunan Ka’bah mencapai ketinggian 15 Hasta, mereka membangun atap yang di sangga dengan enam tiang.
Refrensi:
الرحيق المختوم، ص: 52 - بناء الكعبة وقضية التحكيم
ولخمس وثلاثين من مولده صلى الله عليه وسلم قامت قريش ببناء الكعبة وذلك لأن الكعبة كانت رضما فوق القامة ارتفاعها تسعة أذرع من عهد إسماعيل ولم يكن لها سقف فسرق نفر من اللصوص كنزها الذي كان في جوفها وكانت مع ذلك قد تعرضت اعتباره أثرا قديما للعوادي التي أهت بنيانها وصدعت جدرانها وقبل بعثته صلى الله عليه وسلم بخمس سنين جرف مكة سيل عرم انحدر إلى البت الحرام فأوشكت الكعبة منه على الانهيار فاضطرت قريش إلى تجديد بنائها حرصا على مكانتها واتفقوا على أن لا يدخلوا في بنائها إلا طيبا فلا يخلوا فيها مهر بغي ولابيع ربا ولامظلمة أحد من الناس وكانوا يهابون هدمها فابتدأ بها الوليد بن المغيرة المخزومي وتبعه الناس لما رأوا أنه لم يصبه شيء ولم يزالوال في الهدم حتى وصلبا إلى قواعد إبراهيم ثم أرادوا الأخذ في البناء فجزأوا الكعبة وخصصوا لكل قبيلة جزاء منها فجمعت كل قبيلة حجارة على حدة وأخذوا يبنونها وتولى البناء رومي اسمه باقوم ولما بلغ البنيان موضع الحجر الأسود اختلفوا فيمن يمتاز بشرف وضعه في مكانه واستمر النزاع أربع ليال أوخمسا واشتد حتى كاد يتحول إلى حرب ضروس في أرض الحرام إلا أن أبا أمة بن المغيرة المخزومي عرض عليهم أن يحكموا فيها شجر بينهم أول داخل عليهم من الأمين رضيناه هذا محمد فلما انتهى إليهم وأخبروه الخبر طلب رداء فوضع الحجر وسطه وطلب من رؤساء القبائل المتنازعين أن يمسكوا جميعا بأطراف الرداء وأمرهم أن يرفعوه حتى إذ أوصلوه إلى مضعه أخذه بيده فوضعه في مكانه وهذ حل حصيف رضي به القوم وقصرت بقريش النفقة فأخرجوا من الجهة الشمالية نحوا من ستة أذرع وهي التي تسمى بالحجر والحطيم ورفعوا بابيها من الأرض لئلا يدخلها إلا من أرادوا لما بلغ البنا خمسة عشر ذراعا سقفوه على ست  أعمدة ا ه

Penulis :

(Penulis: Bad’ul Hilmi AR/Ketua Lajnah Bahtsul Masail PP.Miftahul Huda Al-Azhar Kota Banjar)


No comments:

Post a Comment