Thursday, August 15, 2019

CERPEN Santri: "Sombong dan Sarung Bolong"

Langkah badannya tegak dengan kepala bermimik sinis menunjukan raut muka tidak sedap di pandang, namanya adalah Abi kehidupannya penuh dengan kenikmatan yang jarang di sukurinya, pergaulannya dengan remaja bebas dan kemajuan  teknologi yang semakin pesat di jaman modern membuat akhlaknya buruk pada akhir lulus sekolah menengah pertama orang tuanya memutuskan untuk memendidik Abi di Pondok Pesantren, Abi memiliki sifat buruk yaitu sombong, dan Abi ingin mempunyai ilmu sakti agar dirinya dapat menunjukan kehebatannya di depan teman-temannya.

Waktu menunjukan matahari mulai menampakan sinarnya tepat jam 09:00 WIB roda empat mobil keluarga Abi sampai di gerbang Pondok Pesantren, Abi memakai baju remaja yang penuh dengan gaya, di pandangnya oleh santri lain penuh pesona dengan gayanya yang sombong, seolah bahwa semua mata tertuju kepadanya, dalam hati kecil Abi berbisik,” Aku ini adalah orang yang sakti bisa membuat semua mata tertuju kepadaku”, sampai Abi pada ruang administrasi pendaftaran santri baru, lalu Abi mengambil formulir dan brosur yang ada di hadapannya lalu Abi berkata kepada orang tuannya dengan suara keras seolah Abi adalah orang yang sanggup membayar semua administrasi Pondok Pesantren dengan gaya yang tidak enak di pandang oleh petugas administrasi Abi berkata,” Ibu!, ini pembayaran administrasi Pondok Pesantren, ko! Murah banget ya! Ibu lunasin deh semuanya”, dengan suara menyindir petugas Pondok Pesantren, Ibunya pun berkata,” iya nak! Tapi kan kamu tidak usah meremehkan dengan gayamu itu tidak baik bagimu”, Abi menjawab perkataan ibunya,” ini kan gaya Abi bu! Terserah Abi lah !”, dengan nada keras membantah perkataan kedua orang tuanya, setelah administrasi Pondok Pesantren selesai, Abi menuju kamar yang hendak ia tempati, sesampainya di kamar Abi, petugas yang menghantarkan Abi menyuruh Abi untuk memperkenalkan dirinya kepada teman-teman santrinya yang ada di kamarnya, Abi dengan gaya yang sombong memperkenalkan dirinya kepada teman-temannya dengan berkata,” nama saya Abi singkat dan mudah di ingat, saya punya mobil, motor, HP, dan rumah yang besar, lalu petugas Pondok Pesantren pun menegur perkataannya dengan mengajari Abi memperkenalkan dirinya sesuai apa yang harus di kenalkan,”cukup-cukup perkenalannya, kamu cukup memperkenalkan diri dengan menyebut nama, tempat tanggal lahir, cita-cita, dan hobi atau saran dan pesan itu saja”,Abi menjawab,” Katanya suruh memperkenalkan ya! Saya kenalkan gimana sih!”, dengan suara tegas, setelah memperkenalkan dirinya Abi merapihkan bajunya yang akan di letakan di lemari kamarnya, selama di kamar dan mengikuti kegiatan Abi tidak mempunyai teman yang dekat dengannya karena sifat sombong yang ia miliki mengakibatkan teman-teman Abi tidak suka dengan Abi, suatu ketika Abi bertanya kepada salah satu temannya,” kenapa di Pondok Pesantren ini tidak di ajari ilmu sakti seperti menghilang”, temannya pun menjawab,” ilmu yang seperti itu tidak di ajarkan di Pondok Pesantren ini untuk santri yang baru masuk,” Abi menjawab,” bukannya Pondok Pesantren mengajarkan ilmu sakti, aku akan minta saja ke pak kiyai”, lalu Abi memberanikan dirinya menghadap kiyai yang mengasuh di Pondok Pesantrennya, langkah dan fikirannya hanya tertuju kepada rumah pak kiyai kapan Abi bisa datang menghadap pak kiyai, selama di Pondok Pesantren Abi hanya memikirkan bagaimana bisa bertemu pak kiyai supaya dapat belajar ilmu sakti, dua minggu lamanya Abi sudah berada di Pondok Pesantren tapi Abi tidak kunjung mendapatkan ilmu sakti, akhirnya setelah sholat isya selesai dan pak kiyai kembali pulang ke rumah, sebelum pak kiyai sampai rumah Abi sudah menunggu di depan rumah pak kiyai lalu Abi mengucapkan salam,”Assalamualaikum pak”, berbicaranya seperti orang remaja yang hendak menyapa dengan suara lantang, lalu pak kiyai menjawab salam Abi,”Walaikumussalam, ada perlu apa datang kerumah”, Abi menjawab,” saya pengin punya ilmu sakti, yang bisa menghilang”, lalu pak kiyai pun berkata sambil tersenyum,” ilmu mu nak! Belum sampai seperti itu, kamu sholat juga belum sah”, kemudian Abi menjawab” saya sholat lima waktu pak kiyai, kenapa sholat saya di katakan belum sah”, lalu pak kiyai menjawab” sarung kamu itu bolong, sedangkan sholat kan harus menutup pakaiannya”, lalu Abi menjawab” oh seperti itu”, kemudian pak kiyai memberi amalan dzikir kepada Abi supaya membaca istigfar setiap malam sebanyak 500 kali, Abi pun akhirnya pulang ke kamarnya dengan merenungkan kata-kata pak kiyai, tentang sarungnya yang bolong, Abi berkata dalam hati kecilnya,” sholat saya tidak sah! Gara gara sarung saya bolong”, akhirnya Abi memutuskan untuk memakai celana yang terbuat dari kain halus berwarna hitam, Abi mengira bahwa ketika dirinya memakai sarung maka sholatnya tidak sah karena sarung itu bolong, ketika sarung itu di tutup rapat maka kedua kakinya tidak bisa keluar, hari-hari Abi di Pondok Pesantren tidak memakai sarung layaknya santri yang lain.

Kegiatan mengaji di Pondok Pesantren di mulai tepatnya waktu setelah sholat isya yaitu kegiatan belajar mengulang atau di sebut dengan Takror pelajaran ilmu Nahwu dan Shorof, Abi dengan memakai celana hitam dengan percaya dirinya dan rasa bangga terhadap ilmunya pun duduk di paling depan Abi di tanya oleh Ustadz yang membimbingnya,”nama kamu siapa ?”, Abi menjawab,” nama saya Abi singkat dan punya ilmu yang banyak”,  Ustadz pun bertanya kembali,”mengapa kamu memakai celana tidak memakai sarung layaknya santri yang lain ?”, sarung saya bolong, ketika sarungnya bolong! kan tidak sah untuk sholat”, Ustadz menjawab alasan Abi,” iya kamu benar sekali, memang hukumnya seperti itu, kamu belajar di mana sebelumnya?”, Abi pun menjawab,”saya belajar dari pak kiyai, ilmu saya! Kan sudah sakti!”, Ustadz berkata,”sakti! Sombong sekali kamu!”, setelah pelajaran selesai Abi pun kembali ke kamarnya, Abi ingat dengan pesan gurunya supaya mengamalkan bacaan istigfar setiap malam 500 kali, Abi pun segera pergi ke masjid untuk membaca istigfar sebanyak 500 kali, Abi tetap memakai celana hitam karena dirinya menganggaap bahwa memakai sarung itu tidak sah untuk sholat karena sarung itu bolong, suatu ketika Abi di tanya oleh teman satu kamarnya,”kenapa kamu tidak memakai sarung?”, Abi pun menjawab,”sarungnya bolong”, kemudian Abi berbalik menanyakan kepada temannya,”jika kamu memakai sarung bolong kamu sholatnya tidak sah? Iya kan”,temannya pun menjawab,”iya benar!”, Abi pun berkata,”nah! itu tau sendiri, saya itu orang yang sakti di Pondok Pesantren ini”, Abi berkata dengan suara tegas dan menyombongkan dirinya, hari-hari Abi di Pondok Pesantren di laluinya dengan memakai celana hitam ketika Abi di tanya mengapa memakai celana, maka Abi menjawab bahwa sarungnya bolong, dirinya menganggap bahwa teman-temannya sangat bodoh karena ketika memakai sarung bolong maka sholatnya tidak sah, kegiatan pesantren terus berjalan seiring dengan waktu, Abi sudah memakai celana selama 30 hari, teman-temannya pun merasa heran kepada Abi, temannya pun bertanya,”Abi, mengapa kamu terus memakai celana, tidak memakai sarung jika kamu tidak punya sarung? aku masih ada sarung satu untuk kamu pakai,”kemudian Abi menjawab dengan suara keras,”apa kamu bilang tadi ? aku punya sarung kok! Jika aku mau aku akan beli semua sarung yang ada di toko!”,temannya pun bertambah heran kepada Abi, dan berkata,”sombong kamu Abi, ya sudah jika kamu menolaknya”, lalu Abi pergi ke kamarnya dan membuka lemari bajunya Abi memeriksa baju dan sarungnya, ternyata sarungnya berjumlah 5 dan masih bagus seperti baru di beli dari toko, tapi Abi masih mempunyai keyakinan bahwa memakai sarung yang bolong tidak tertutup bagian bawahnya, maka sholatnya tidak sah, teman-teman satu kamarnya merasa heran kepada Abi, mengapa Abi tidak memakai sarung, temannya pun berbisik di dalam hati kecil,”ketika sarungnya Abi bolong, seharusnya Abi memperbaiki ketempat jahit pakaian, supaya sarungnya dapat di perbaiki”, Abi sudah tinggal di Pondok Pesantren beberapa hari tetapi Abi tidak ingin memakai sarung karena Abi pernah mendengar pak kiyai berkata bahwa jika sarungnya bolong maka sholatnya tidak sah, adzan sholat isya pun berkumandang segera Abi melangkahkan kakinya untuk melaksanakan sholat isya, sebelum sampai ke  masjid Abi bertemu dengan pak kiyai dan Abi di tanya oleh pak kiyai,”mengapa kamu tidak memakai sarung?”, Abi pun menjawab,”sarungnya bolong”, pak iyai pun menjawab dengan tersenyum,” oh begitu! Ya sudah”, setelah itu Abi sholat isya dengan menempati barisan pertama tepat di belakang pak kiyai yang menjadi imam sholat, Abi pun melihat ke arah pak kiyai dan hati kecilnya penuh tanya,”mengapa pak kiyai memakai sarung, sedangkan pak kiyai pernah berkata bahwa ketika sarungnya bolong maka sholatnya tidak sah”, sholat yang di lakukan Abi di belakang pak  kiyai membuat Abi tidak khusu hatinya penuh gelisah akan sholat yang Abi lakukan, hati kecilnya terus bertanya-tanya,”apakah sholat saya sah atau tidak”, sholat isya pun selesai di lakukan, setelah itu Abi pergi ke kamarnya untuk mempersiakan kegiatan mengaji takror kepada Ustadz, teman-teman Abi merasa heran ketika melihat Abi, setelah beberapa hari Abi di tanya mengapa memakai celana, Abi terus saja menjawab bahwa ketika memakai sarung bolong maka sholatnya tidak sah, pelajaran mengaji Takror pun di mulai, di tengah pembahasan Abi di tanya yang ke sekian kalinya oleh ustadz yang membimbingnya,”mengapa masih memakai celana tidak memakai sarung?,” Abi pun menjawab,” ketika memakai sarung bolong maka sholatnya tidak sah”, Ustadz pun menjawab,”kamu tidak memperbikinya?, atau kamu tidak punya uang untuk memperbaikinya?,”, Abi pun menjawab dengan sombongnya,”jika perlu Ustadz, saya akan beli semua sarung yang ada di toko,” kemudian Abi marah dengan gaya sombongnya lalu Abi keluar dari kegiatan mengaji Takror, di hati Abi berbisik,”aku memang orang sakti, semua santri yang ada di Pondok Pesantren ini menjadi kagum atas diriku, memang bodoh mereka semua, sholat mereka tidak sah karena memakai sarung bolong”, kemudian Abi memutuskan untuk membaca amalan istigfar yang di perintahkan kiyainya, tepat di malam ke 40 dari amalan bacaan istigfar yang di berikan kiyainya, Abi membaca amalan istigfar sebanyak 500 kali, tidak terasa Abi tertidur dan bermimpi berjumpa dengan seseorang yang berpakaian putih dan berkata,”dosa-dosa kamu sangat besar karena kamu mempunyai sikap sombong, kamu adalah orang yang paling bodoh di antara santri yang ada di Pondok Pesantren ini”, kemudian Abi di berikan satu tumpukan buku yang berisi ilmu-ilmu agama islam, lalu Abi bangun dari tidurnya dan berkata di hati kecilnya,”aku bertemu seseorang yang berpakaian putih dan berkata dosa-dosa ku sangat besar, padahal aku selalu sholat dengan sah, mungkin itu hanya bunga tidur saja tidak perlu aku fikirkan, tidur lagi saja”, matahari pun seakan menampakan cahaya terangnya menunjukan waktu pagi, Abi masih teringat dengan mimpi yang dia alami, di hatinya berbisik,”yang berjumpa di dalam mimpimu adalah orang yang akan memberikan ilmu sakti kepadamu”, Abi dengan sikap sombongnya menceritakan perihal mimpi yang di alaminya kepadaa teman-teman santrinya, dan berkata,”hai  teman!, berkat aku memakai celana di dalam sholat aku bermimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian putih lalu orang itu memberikan satu tumpukan buku-buku yang berisi ilmu-ilmu agama, aku ini kan orang sakti”, kemudian temannya berkata”, apa benar Abi kamu bermimpi seperti itu, kalau begitu kamu orang yang sakti”,temannya tersenyum penuh heran, lalu Abi pergi dari kamarnya untuk menceritakan kepada teman santrinya yang lain, di saat Abi pergi teman-teman santri satu kamar Abi, melihat ada sarung yang tertata rapih di atas lemari, temannya pun heran dan berkata,”ini sarung Abi! kelihatannya tidak ada yang bolong masih bagus, mengapa Abi berkata kalau sarungnya bolong?,”teman satu kamarnya bertambah heran, pada malam harinya Abi mengikuti kegiatan mengaji Takror seperti biasa, dan Abi menjadi sorotan perhatian teman-temannya, buka menjadi sorotan karena Abi pintar atau baik, tapi semua teman-temannya merasa aneh dengan sikap Abi yang tidak memakai sarung, lalu Abi bertanya kepada teman-temannya,”mengapa kalian semua melihat aku, kalian kagum ya! Dengan diriku!”, setelah mengaji Takror Abi pun melakukan amalan seperti biasa yang di berikan pak kiyai kepada Abi supaya membaca istigfar setiap malam sebanyak 500 kali, tidak seperti biasa Abi selalu menyelesaikan amalannya, pada malam yang ke 41 di hitung dari abi di perintah mengamalkan membaca istigfar 500 kali, pada malam ke 41 Abi merasakan hati yang gelisah akhirnya Abi tertidur sebelum sampai pada bacaan istigfar yang ke 500 kali, kemudian seperti pada malam yang lalu, Abi bermimpi bertemu dengan orang yang berpakaian putih, dan berkata,”kamu menjadi orang yang sombong, bangga dengan ilmumu yang pada kenyataannya kamu adalah orang yang bodoh”, lalu orang yang berbaju putih yang ada di dalam mimpinya Abi, memukul Abi dengan palu yang sangat besar melebihi ukuran besar tubuh Abi, setelah di pukul, Abi pun berkata,”ampun!...ampun!...salah saya apa? Lalu orang yang berbaju putih menjawab,”kamu orang yang sombong, bangga dengan ilmumu padahal kamu orang yang bodoh!,”Abi pun menjawab dengan suara tertatih,”saya orang yang bodoh! Lalu bagaimana agar saya menjadi orang yang pintar dan tidak sombong”, kemudian orang yang berbaju putih berkata,”kamu saya berikan satu tumupukan buku”, lalu Abi menjawab,”buku ini untuk apa”, orang yang berbaju putih pun berkata”, buku-buku ini akan menjadikan kamu orang yang pintar”, lalu Abi menjawab,”baiklah”, ayam-ayam jago bersuara menandakan waktu terbit fajar, Abi pun bangun dari tidurnya dan terus merasa gelisah terhadap mimpi yang dia alami, hari-hari di Pondok Pesantren Abi lakukan dengan rasa gelisah, pada akhirnya Abi memutuskan untuk bertanya kepada pak kiyai tentang dirinya yang bermimpi bertemu orang yang berpakaian putih langkahnya penuh ragu, pintu rumah pak kiyai pun tidak kunjung di buka salam Abi pun tidak di jawab oleh pak kiyai, alangkah malangnya Abi tersengat lebah yang datang hinggap di bahu sebelah kirinya, Abi pun merasakan sakit yang belum pernah dia lakukan, akhirnya Abi tidak kuat menahan rasa sakit yang dia alami akibat tersengat lebah, Abi pun berteriak dengan suara keras, dan memarahi lebah yang menyengatnya,”kurang ajar kamu lebah, menggigitku memangnya aku makananmu, awas kamu jika tertangkap aku potong-potong tubuhmu”, ketika Abi berteriak memaki lebah yang menyengatnya pak kiyai pun keluar membuka pintu dan memarahi Abi,”sedang apa kamu di sini! Kamu mengganggu saya dengan suaramu yang keras, jika ingin berteriak! kamu pergi saja ke lapangan”, lalu Abi pergi dengan rasa kecewa akibat di perintah pergi oleh pak kiyai, ke esokan harinya Abi mencoba untuk datang kembali menemui pak kiyai untuk menanyakan perihal mimpinya, Abi menucapkan salam di depan rumah pak kiyai,”Asalamualaikum pak kiyai”, Pak kiyai pun tidak kunjung keluar, lalu Abi menunggu dengan penuh kesabaran sampai Abi tertidur di depan pintu rumah pak kiyai, setelah beberapa saat Abi tertidur pak kiyai pun membuka pintu, dan baru menjawab salam Abi,”Walaikumsalam”, sampai beberapa kali jawaban pak kiyai di ulang, Abi belum terbangun dari tidurnya, lalu pak kiyai membangunkannya dan berkata,”ada perlu apa kamu datang ke rumah”, kemudian Abi menjawab,”saya ingin bertanya perihal mimpi saya bertemu dengan orang berbaju putih dan berkata bahwa saya orang yang bodoh dan sombong”, lalu pak kiyai mempersilahkan Abi untuk masuk ke rumahnya dan berbicara di ruang tamu pak kiyai pun balik bertanya kepada Abi seolah pak kiyai sudah mengethui permasalahan yang sedang Abi hadapi, pak kiyai pun bertanya,”mengapa kamu memakai celana tidak memakai sarung”, lalu Abi menjawab,”pak kiyai kan pernah berkata kepada saya jka sarung kamu bolong maka sholat kamu tidak sah, sarung di bagian bawah saya bolong pak kiyai, maka dari itu saya memakai celana jika sarung saya tertutup maka kaki saya susah untuk berjalan”,Pak kiyai pun tertawa dan berkata”, maksud saya itu ketika kamu memakai sarung yang bolong di bagian tubuh auratmu maka sholat kamu tidak sah karena menutup aurat adalah salah satu syarat sah di dalam ilmu sholat dan kamu harus mengetahui tata cara ibadah sholat mulai dari syarat, rukun, dan batalnya sholat, itu ilmu yang harus kamu dahulukan di bandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain”, lalu Abi merasa bahwa dirinya salah dan bodoh dan anggapannya selama ini berujung buntu, bahwa ilmu yang harus di dahulukan adalah ilmu sholat dan Abi tidak menanyakan perihal mimpinya karena Abi sudah mengerti bahwa dirinya itu bodoh dan selalu ingin membanggakan dirinya, lalu di dalam hati Abi berbisik perihal mimpi Abi yang di berikan satu tumpukan buku oleh orang yang berbaju putih di dalam mimpinya,”mungkin ini maksud dari orang yang berbaju putih yang menemuiku di dalam mimpi yang memberikan satu tumpukan buku supaya aku dapat belajar ilmu-ilmu agama yang harus aku utamakan terlebih dahulu, ketika diriku belum mengetahui ilmu sholat maka sholatku masih belum sempurna, saya harus belajar ilmu sholat dan ilmu-ilmu agama dengan sungguh-sungguh”,kemudian Abi meminta izin kepada pak kiyai untuk kembali menjalankan kegiatan santri, setelah sampai di kamarnya Abi mengganti celana hitamnya dengan sarung dan merasa malu di hadapan teman-teman santrinya, kemudian Abi meminta maaf atas segala kesalahan dan sifat sombongnya dan berkata,”teman-teman!, saya meminta maaf atas segala kesalahan saya, diri saya bodoh dan belum sakti!..”, temannya pun tertawa dan berkata”, iya Abi, saya maafkan atas segala kesalahanmu, memang terkadang seseorang mempunyai sikap seperti itu ingin membanggakan dirinya terhadap ilmu yang ia miliki, pada kenyataannya ilmu yang ia miliki tidak sedalam pengetahuannya tentang agama, contoh saja jaman sekarang orang-orang atau pun ustadz jadi-jadian saling mengkafirkan, memusrikan bahkan sering sekali membuat pernyataan bid’ah tentang urusan agama”, Abi pun mengajak berjabat tangan dan meminta maaf atas segala sikap buruknya terhadap teman-temannya, setelah itu Abi selalu memakai sarung untuk beribadah dan mencari ilmu di Pondok Pesantrennya dan setelah beberapa tahun lamanya Abi tinggal di Pondok Pesantren Abi menjadi seorang santri yang alim bahkan dirinya di beri kepercayaan untuk menjadi ketua santri di Pondok Pesantrennya.
TAMAT
Penulis
Oleh: Bad’ul Hilmi Arromdoni

No comments:

Post a Comment